UPT OAIL

"Unit Pelaksana Teknis Observatorium Astronomi ITERA Lampung"

               

Pengamatan Bintik Matahari AR2765 di ITERA


Juni 12th, 2020 | Posted by: oail


Bintik Matahari AR2765 diamati dengan teleksop Matahari di ITERA.

Pengamatan dilakukan dengan dua teleskop yaitu teleksop H-Alpha (Coronado SolarMax III 70mm f/5.7) dan teleskop Lunt ED 80mm f/7 dengan kamera ZWO ASI 178 MM pada tanggal 10 Juni 2020 di Rooftop Gedung C Kampus ITERA. Dengan menggunakan dengan teleskop H-Alpha kita dapat melihat aktivitas di kromosfer Matahari, seperti pada gambar (gambar 1) kita dapat melihat granula Matahari, juga berbagai fitur seperti sunspot, plage, dan juga prominensa. Sedangkan dengan menggunakan teleksop Lunt dan filter Matahati ND5, kita dapat melihat aktivitas di lapisan fotosfer Matahari, seperti sunspot (gambar 2).

Aktivitas di kromosfer Matahari dapat diamati dengan teleskop H-alpha, sedangkan dari pengamatan pada continuum dengan teleksop Lunt dan filter Matahati ND5 dapat ditunjukkan aktivitas di lapisan fotosfer Matahari.

Bintik Matahari AR2765 adalah salah satu bintik yang muncul di siklus 25 Matahari. Matahari menunjukkan siklus variasi jumlah bintik Matahari yang memiliki periode 11 tahunan. Nomor jumlah siklus ini diamati sejak tahun 1775. Dimulai dari siklus 1 yang dicatat oleh Rudolf Wolf.

Pengamatan bintik Matahari sudah diamati dari zaman peradaban Tiongkok Kuno. Akan tetapi, pengamatan menggunakan alat bantu teleskop secara sistematis pertama kali dilakukan oleh Galileo Galilei pada awal abad ke-17 (1609 M). Kemudian yang menemukan adanya siklus variasi dari jumlah sunspot adalah Samuel Heinrich Schwabe pada tahun 1843 yang melakukan pengamatan selama 17 tahun. Akan tetapi pernyataan adanya siklus ini didahului oleh Christian Horrebow pada 1775 yang menyatakan kemungkinan adanya perubahan jumlah jumlah bintik Matahari yang diamatinya pada 1761. Kemudian Rudolf Wolf mulai mengumpulkan data-data pengamatan Matahari hingga tahun 1745 dan menggunakan siklis 1755-1766 (11 tahun) sebagai siklus nomor 1. Penomoran Wolf ini masih digunakan hingga sekarang. Kemudian pada sekitar paruh kedua abad 19,  Richard Carrington dan Spörer, secara terpisah, menyatakan bahwa adanya variasi lokasi lintang bintik Matahari dan jumlahnya matahari pada kurun waktu siklus 11 tahunan tersebut, terkenal dengan diagram kupu-kupu bintik Matahari.

[OAIL]


Tinggalkan Komentar



Bahasa

Kerjasama

instagram feed

No images found!
Try some other hashtag or username

Current Moon Phase


Full Moon
Full Moon

The moon is currently in Capricorn
The moon is 14 days old

Distance: 59 earth radii
Ecliptic latitude: -1 degrees
Ecliptic longitude: 287 degrees
Joe's
Copyright © 2016 UPT TIK - Institut Teknologi Sumatera (ITERA)
           
Translate »